SURABAYA - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur menyerukan penghentian aksi demonstrasi anarkis yang berlangsung dalam beberapa hari terakhir. Ketua Umum Kadin Jatim, Adik Dwi Putranto, menegaskan bahwa instabilitas politik dan keamanan bisa menimbulkan dampak serius terhadap perekonomian, pariwisata, hingga iklim investasi di Indonesia.
“Stop, sudah cukup aksinya. Mari kita kembali bersama-sama membangun daerah,” tegas Adik di Surabaya, Minggu (31/8/2025).
Ia menjelaskan, beberapa negara seperti Australia, Amerika Serikat, dan Inggris telah mengeluarkan travel warning ke Indonesia. Kondisi ini dikhawatirkan menurunkan minat wisatawan mancanegara sekaligus mengurangi kepercayaan investor.
“Kuncinya menjaga stabilitas adalah gotong royong. Aspirasi rakyat harus diterima dengan baik dan segera ditindaklanjuti oleh pemerintah,” ujarnya.
Baca Juga : Elpiji 3 Kg Langka, Disperindagin Kota Kediri Panggil Pertamina
Kadin Jatim juga menyoroti perusahaan di Jakarta yang mulai menerapkan kerja dari rumah (WFH) akibat gangguan mobilitas. Kebijakan ini, menurut Adik, bisa mengurangi produktivitas dan memperlambat pemulihan ekonomi pasca-pandemi.
Meski begitu, ia optimistis aktivitas ekonomi di Jawa Timur segera pulih pekan depan, dengan catatan saluran aspirasi masyarakat tetap terbuka lebar agar tidak menimbulkan gejolak baru.
Hal senada disampaikan Ketua Hiswana Migas Jatim, Ismed Jauhar. Ia menilai demonstrasi sah dalam demokrasi, tetapi harus sesuai prosedur agar tidak menghambat distribusi barang dan energi.
Baca Juga : Hiswana Migas Dukung Pembelian Tabung LPG 3 Kg Pakai KTP
"Jangan sampai demo menghambat kelancaran logistik. Daya beli dan daya saing justru harus kita tingkatkan di tengah kondisi global yang tidak menentu," katanya.
Ismed menambahkan, gangguan akibat demo bukan hanya menghambat distribusi, tetapi juga bisa mengurangi kenyamanan investasi.
"Harusnya aspirasi disampaikan secara santun. Keamanan dan kenyamanan ini sangat menentukan kepercayaan investor," ujarnya.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, kontribusi sektor pariwisata dan transportasi terhadap PDB Jawa Timur mencapai lebih dari 5 persen. Dengan adanya travel warning dari negara-negara besar, potensi kehilangan devisa pariwisata dinilai signifikan jika kondisi tidak segera kondusif.
Adik menutup seruan Kadin Jatim dengan mengingatkan bahwa menjaga stabilitas bukan hanya tugas pemerintah, tetapi juga masyarakat luas.
"Gotong royong menjadi kunci. Kita harus bersama-sama mengawal aspirasi secara damai agar pembangunan ekonomi tidak terganggu," pungkasnya. (*)
Editor : A. Ramadhan