SURABAYA - Sebanyak 110 pengunjung tercatat mendaftar pada hari pertama penyelenggaraan KinoFest 2025 di Wisma Jerman Surabaya. Tahun ini menjadi kali pertama Surabaya terpilih sebagai lokasi pelaksanaan, setelah festival sebelumnya hanya digelar di Jakarta dan Bandung.
KinoFest merupakan kelanjutan dari German Cinema yang sempat vakum dan kini dihadirkan kembali dengan nama baru. Pada tahun ketiganya, KinoFest digelar serentak di delapan negara kawasan Asia Tenggara, Australia, Selandia Baru, serta turut dibuka di Timor Leste.
Suguhkan Film-Film Terbaru 2024–2025
Asisten Program Budaya Wisma Jerman, Dhahana Adi Pungkas, menyampaikan bahwa keunggulan KinoFest tahun ini adalah pemutaran film-film yang dirilis dalam satu tahun terakhir.
“Ini menjadi kesempatan bagi warga Surabaya untuk menikmati film-film yang masih sangat baru. Genre-nya beragam, mulai dari drama, komedi, hingga fantasi,” ujar Dhahana.
Beberapa film ramah untuk semua umur, seperti film animasi Niko dan Rusa Kutub yang diputar pada hari Sabtu (29/11/2025) di sesi pertama pukul 13.00 dan sesi kedua pukul 15.30.
Film lainnya mengikuti batasan usia, seperti Vena yang dikategorikan 21+ karena mengangkat kisah pergumulan seorang ibu muda.
Film Sebagai Tontonan dan Tuntunan
Dhahana menjelaskan bahwa KinoFest membawa pesan lebih dari sekadar hiburan.
“Kami berharap KinoFest menjadi referensi tontonan sekaligus tuntunan. Film bukan hanya hiburan, tetapi juga ruang pembelajaran. Tahun ini temanya keluarga dalam makna yang lebih luas—tempat kita pulang dan tempat kita berdialog dengan diri dan lingkungan,” tuturnya.
Festival ini diharapkan memperkaya pemaknaan tentang keluarga sekaligus menjadi alternatif agenda budaya di Surabaya, khususnya di bidang seni dan sinematografi.
Tantangan Film Eropa dan Antusiasme Pengunjung
Menurut Dhahana, film Eropa memiliki tantangan tersendiri dalam menarik minat masyarakat.
“Film Eropa memang tidak semudah film komersial dalam menarik massa. Tapi festival ini adalah jembatan budaya antara Indonesia dan Jerman. Lewat film, kita belajar melihat realita kehidupan,” ucapnya.
Beberapa film menyajikan potret nyata kehidupan, seperti Heldin, yang menggambarkan dinamika pekerjaan seorang juru rawat.
Nilai-nilai keluarga dan pergulatan batin juga tercermin kuat dalam film kelima, “Die Saat des Heiligen Feigenbaums,” film dari Iran, yang sebelumnya memperoleh penghargaan khusus pada Film Festival tahun lalu.
“Festival film seperti ini adalah cara bagi kita memandang realita kehidupan dari berbagai sudut,” tambahnya.
Dengan lebih dari seratus pendaftar di hari pertama, penyelenggara berharap minat penonton Surabaya akan terus meningkat.
“Kami berharap semakin banyak orang datang untuk menikmati KinoFest sebagai alternatif hiburan setelah pulang kerja. Semoga festival ini menjadi sarana apresiasi dan pertukaran budaya dari segi nilai maupun makna,” ujar Dhahana. (Ni Luh Ayu)
Editor : M Fakhrurrozi



















