PONOROGO - Anomali cuaca berdampak besar pada petani tembakau di Desa Jalen, Kecamatan Balong, Ponorogo. Hujan yang terus turun dalam beberapa pekan terakhir tidak hanya mengganggu pertumbuhan tanaman, tetapi juga merusak proses penjemuran. Akibatnya, kualitas tembakau menurun drastis dan harganya jatuh hingga setengahnya.
Di desa tersebut terdapat sekitar 35 hektare ladang tembakau dan sekitar 30 persen di antaranya terdampak hujan. Banyak tanaman gagal tumbuh, daun menguning, hingga diserang hama kutu. Bahkan ada tanaman yang busuk batang dan sebagian petani terpaksa menanam ulang karena gagal panen. Satu petak ladang yang gagal panen bisa membuat petani merugi hingga Rp 4 juta.
Kerugian juga terjadi saat proses penjemuran. Tembakau berkualitas baik seharusnya kering dalam satu hari. Namun karena hujan terus turun, penjemuran memakan waktu lebih lama. Hal ini membuat warna daun berubah menjadi kemerahan sehingga grade turun. Dampaknya, harga tembakau anjlok dari semula Rp 45 ribu per kilogram, kini hanya laku Rp22 ribu saja.
Baca Juga : Diserang Hama Tikus, Puluhan Hektar Sawah di Ngawi Gagal Panen
Menurut Ahmad, Ketua Kelompok Tani Tembakau Desa Jalen mengatakan “Kalau cuaca begini, petani benar-benar bingung. Ada tanaman yang busuk batang, bahkan ada yang gagal panen lalu terpaksa tanam lagi. Kalau begini terus, pendapatan kami makin terancam,” ujarnya. Ketua Kelompok Tani Tembakau Desa Jalen.
Kondisi cuaca yang tak menentu membuat para petani semakin cemas, karena hasil tembakauselama ini menjadi tumpuan utama kehidupan mereka. (Sayekti Milan/Fadillah Putri)
Editor : M Fakhrurrozi